December 15th, 2011
Memiliki dua orang tua yang umurnya
memang sudah uzur sering membuat diri merenung. Ayah umur 80, ibu 75. Banyak
orang berkomentar dan separuh kagum karna orang tua masih hidup di umur tua
seperti itu. Ya, keluarga memang punya histori umur yang cukup panjang. Nenek
dari pihak papa meninggal di umur 99.
selanjutnya
selanjutnya
Tapi kalau ditanya, bahagiakah ayah?
Bahagiakah ibu? Bahagiakah anak-anak yang punya kedua orang tua yang demikian
umur panjang? Tentu jawabannya relatif. Kebahagiaan buat setiap orang
berbeda-beda, dan tentu saja itu juga berlaku buat kedua orang tua. Dan juga
buat anak-anaknya.
Kalau melihat kondisi papa yang
tidak begitu sehat lagi dan mama yang kesehatannya sangat menurun beberapa
tahun terakhir ini, barangkali mereka belum tentu sebahagia beberapa tahun yang
lalu, saat kesehatannya masih prima dan lebih leluasa untuk berpergian.
Sekarang, begitu banyak keterbatasan
untuk mereka. Melangkah pun kadang harus perlahan-lahan. Papa jalan harus
dibantu dengan alat bantu jalan karna sedang menjalani pengobatan untuk
sarafnya yang terjepit. Mama, dengan osteoporosisnya tentu banyak keterbatasan
membuat ruang geraknya tidak sebebas beberapa tahun yang lalu
Fenomena alamiah dan yang sangat
manusiawi seperti itu terkadang sering menjadi bahan renungan. Buddha dulu
selalu berujar, lahir, sakit, menua dan mati adalah proses alam yang tidak bisa
dipungkiri oleh makhluk hidup mana pun juga di dunia. Barangkali kecanggihan
teknologi jaman dapat memperlambat penuaan dan memperpanjang usia
tetapi tentunya tidak akan bisa mencegah penyakit, usia tua dan mati.
Melihat kondisi papa dan mama sering
sekali membuat diri sendiri bertanya bagaimanakah kalau nanti setua mereka?
Kalau kita diberikan pilihan, tentunya ingin hidup tua, bahagia dan sehat.
Kalau hidup tua, tidak sehat lebih baik tidak perlu hidup tua. Apalagi kalau
kita lihat Life Expectancy rata-rata orang Indonesia ada di 65 tahun. Jadi
sebetulnya di atas 65 tahun sudah bonus. Dengan kata lain, cukuplah kalau kita
nanti meninggal di sekitar umur segitu.
Kalau hidup tua tapi sakit-sakitan,
mungkin bisa membuat diri sendiri tidak bahagia dan barangkali membuat orang di
sekeliling ikut tidak bahagia.
Menjadi tua dan menjadi orang tua
tentulah dua hal yang terpisah. Menjadi tua belum tentu menjadi orang tua,
misalnya kalau orang tersebut hidup single atau pun menikah tetapi tidak
memiliki keturunan. Menjadi orang tua belum tentu lebih baik daripada hidup
menua tetapi tidak menjadi orang tua.
Bagaimana anak jaman sekarang memperlakukan
orang tuanya yang sudah menua tentulah berbeda-beda
. Semua bergantung kepada kebajikan dan karma baik yang pernah dilakukan oleh orang tua tersebut. Kalau memang karmanya baik, maka kesehatan di usia tua juga baik dan juga memiliki anak-anak yang baik.
. Semua bergantung kepada kebajikan dan karma baik yang pernah dilakukan oleh orang tua tersebut. Kalau memang karmanya baik, maka kesehatan di usia tua juga baik dan juga memiliki anak-anak yang baik.
Tetapi seringkali dalam hidup kita
tidak bisa memilih. Tidak bisa memilih apakah kita akan hidup sampai tua dan
meninggal di umur berapa. Tidak bisa memilih apakah kita akan hidup menua sehat
atau hidup tua sakit-sakitan. Sama halnya tidak bisa memilih apakah anak-anak
kita akan memperlakukan kita dengan baik atau tidak di usia tua
Hidup memang pilihan. tetapi hidup
tua bukanlah pilihan. Hidup tua sehat atau hidup menua dengan sakit-sakitan
juga bukanlah pilihan, meski bisa diantipasi dengan menjalani hidup sehat sejak
muda. Sama halnya hidup tua memiliki anak yang memperlakukan kedua orang tuanya
dengan baik atau tidak itu juga bukanlah pilihan. Semuanya lebih kepada karma
yang akan berbuah pada saat usia tua.
Kondisi-kondisi yang muncul dalam
kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa kita pilih. Sesuatu yang di luar
kendali kita sebagai manusia yang fana. Tetapi yang bisa kita pilih adalah cari
berpikir kita. Hidup tua memang adalah proses alam yang akan terjadi pada siapa
pun. Sakit adalah proses alam yang mungkin akan terjadi dan berbeda-beda
kadarnya buat setiap orang yang mengalaminya.
Tetapi bagaimana kita menghadapi
rasa sakit di hari tua adalah sesuatu yang bisa kita pilih pada saat usia
kita menua. Dengan pikiran yang jernih, selalu sadar dan waspada, maka
kesakitan, kesendirian hanya akan berefek terhadap fisik badan kita, tetapi
tidak akan mempengaruhi batin kita.
Melatih batin sehingga selalu jernih
dan waspada, pola makan yang sehat dan olah raga yang teratur sehingga secara
fisik lebih sehat di usia tua adalah pilihan yang bisa kita lakukan sekarang
juga.
Berlatihlah terus, jangan patah
semangat, hingga mencapai pantai seberang
Semoga semua makhluk hidup
berbahagia
Tiada ulasan:
Catat Ulasan